Mengakui pain adalah awal kesembuhan

Dalam menjalani terapi, saya sering menemukan banyak klien yang tanpa disadari berusaha “menghindari” pain. Hal ini tentu menyulitkan terapis untuk memastikan bahwa permasalahan emosi telah netral. Sama halnya dengan dokter fisik yang harus mengetahui sakitnya dimana, tingkat sakitnya seperti apa. Kalau pasien tidak mau mengakui sakitnya dimana dan separah apa, bagaimana dokter bisa membantu menyembuhkan?

Begitu juga di dalam terapi mental, penting pasien untuk mengakui perasaaannya secara jujur. Tidak perlu ditutup-tutupi karena itu malah akan mempersulit terapis dalam membantu. Salah satu ciri bahwa klien secara tidak sadar mungkin tidak mau mengakui perasaannya adalah kalimat seperti ini “saya sudah maafkan kok Pak, saya udah enggak inget inget kesalahan dia lagi, biarlah Tuhan yang menghukum dia disamber geledek sampai mati”.  Kalau masih ada kalimat “meyumpahi” begitu, tandanya belum benar tuntas permasalahan emosinya.

Justru disini kami ingin membantu supaya masalah emosi negatif anda bisa netral kembali. Untuk itu anda harus jujur pada perasaan anda sendiri di dalam ruang terapi. Setidaknya jujurlah untuk 2-3 jam di dalam ruang terapi. Terserah kalau di luar ruang terapi Anda ingin menutupinya. Tujuan kami agar emosi negatif anda bisa benar benar clear.  Bukankah itu tujuan anda datang ke terapis?