4. Pendapat dokter

Pendapat Dokter Terhadap Hypnotherapy

Banyak penyakit fisik memang disebabkan oleh pikiran, karena banyak kelenjar-kelenjar yang memproduksi hormon sangat dipengaruhi oleh pikiran. Contohnya

1. Hormon adrenalin yang langsung meningkat dalam hitungan detik bila emosi sedang menggebu-gebu.

2. Penderita kencing manis misalnya ,bila sedang stres, kadar gula otomatis meningkat.

3. Sekresi asam lambung akan meningkat pada keadaan stres ,baik stress yang disadari maupun stres yg tidak disadari,justru kebanyakan penderita tidak menyadari adanya stres.

4. Penyakit infeksi baik virus maupun bakteri juga lebih mudah berjangkit pada orang stres ,karena stress menyebabkan penurunan system imunitas tubuh.

Jadi banyak penyakit yang disebabkan oleh stress, bila penyebab stres tersebut dapat dihilangkan, tentunya penyakit-penyakit tersebut dapat sembuh karena akar masalahnya telah diselesaikan.

dr. Mimien K.S

NB: dokter Mimien adalah dokter senior lulusan fakultas kedokteran UGM tahun 1970. saat ini dr Mimien praktek di Jl. Petojo Selatan 13/8 Roxy – Jakarta Pusat

Cara Kerja Narkoba

Narkoba

 

Dari mana datangnya kebahagiaan, perasaan puas, kedamaian?

 

Seorang neuroscientist secara awam mengemukakan, sumber “kebahagiaan” atau “kesenangan” sebenarnya adalah ketika hipotalamus, sebuah pusat di otak, menerima rangsangan dari hormon endorfin. Ia mengeluarkan sensasi yang diterjemahkan sebagai “bahagia” dan “senang”. Rangkaian dari terjemahan ini kemudian adalah diproduksinya hormon-hormon lain yang menunjang perasaan “bersemangat” (testosteron), dan perasaan “berenergi” (adrenalin), perasaan “bertanggung jawab” (oksitosin), dan naiknya lagi kadar hormon endorfin yang meredakan rasa sakit atau menaikkan tingkat toleransi dan nilai ambang terhadap rasa sakit sehingga perasaan sakit dan ketidak nyamanan akan menjadi “tolerable”. Selanjutnya endorfin juga meningkatkan kadar imunoglobulin yang mampu meningkatkan daya tahan serta menjaga kesehatan seutuhnya.

Singkatnya, endorfin telah menjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya yang mampu menikmati kehidupan yang diikuti dengan rasa bertanggung jawab serta memicu semangat untuk “hidup”.

 

Narkoba merampas segalanya dan menjadikan manusia menjadi tidak lebih dari hewan, mungkin bahkan lebih rendah daripada hewan.

Bagaimana bisa begitu?

 

Sekali narkoba merasuki otak, ia akan merebut posisi endorfin; artinya reseptor endorfin diblokir oleh narkoba, bukan hanya secara kimiawi, tetapi pusat yang pernah dibanjiri narkoba akan menyimpan memori yang sangat kuat tentang bagaimana narkoba menerbitkan perasaan “bahagia”, sehingga pusat itu juga tidak mampu lagi menerima rangsang dari endorfin. Akibatnya ia hanya akan merasa “bahagia” manakala ada narkoba, dan akan merasakan siksaan berkepanjangan jika tidak ada narkoba. Bergantung kepada jenis narkobanya, jika semula dari jenis stimulan, ia akan menjadi kehilangan semangat, kehilangan jati diri, sampai bersedia merendahkan martabat dirinya lebih rendah dari hewan demi memperoleh narkoba lagi, atau bunuh diri jika tidak mampu memperolehnya; jika dari tipe depresan, ia akan menjadi agresif dan perasaan sakit yang menyeluruh tubuh serta ketidak nyamanan yang tak dapat dihilangkan dengan apapun kecuali narkoba itu lagi. Ia akan bisa berbuat apapun yang bahkan melebihi buasnya hewan demi untuk mendapatkan narkoba. Ia juga kehilangan naluri kemanusiaannya dan menjadi lebih rendah daripada hewan!

 

Tidak hanya itu, sebab narkoba juga akan menghilangkan kemampuan produksi testosteron dan oksitosin sehingga ia akan kehilangan semangat dan kehilangan jati diri sebagai manusia yang bermartabat dan bertanggung jawab, termasuk munculnya hasrat berbuat kekerasan sampai ke perkosaan, penyiksaan dan pembunuhan tanpa nurani lagi.

Narkoba juga melumpuhkan produksi endorfin sehingga untuk jangka panjang, bisa sampai seumur hidupnya ia tidak akan lagi merasakan kebahagiaan serta kedamaian. Dengan kata lain, ia sudah tidak lagi bisa hadir sebagai manusia yang utuh.

 

Yang “hebat” adalah bahwa sebagian besar atau bahkan semua bandar narkoba belum dan tidak akan pernah kemasukan narkoba! Mereka sadar benar efek “membunuh jangka panjang” narkoba sehingga tidak bakalan mengonsumsinya. Mereka sadar betul, sekali saja ikut terjerat narkoba, otak serta naluri bisnis dan kecerdikan mereka akan hilang!

 

Hampir semua korban narkoba gagal melakoni program rehabilitasi karena pusat di otak menyimpan memori jangka panjang efek narkoba sehingga setelah semua jejak zat kimia narkoba dihapuskan secara totalpun memori itu bertahan, bisa seumur hidupnya. Memori ini lebih kuat daripada masukan memori baru dari hasil psikoterapi.

 

Sekarang mari kita simak, kapan hormon endorfin diproduksi.

@ Ketika kita tersenyum, sampai dengan terbahak-bahak;

@ ketika kita berhasil mencapai / meraih idaman dan berprestasi;

@ ketika kita bermurah hati dan menolong orang lain;

@ ketika kita berhasil menuntaskan altruisme kita;

@ ketika kita menerima penghargaan dari orang lain;

@ last but not least: ketika kita mencapai “orgasmus”…. (puncak kepuasan saat melakukan hubungan seksual).

Bayangkan ketika semua itu hilang karena produksi endorfin dihambat oleh narkoba, seperti apa kira-kira keadaan dunia yang kita diami ini jadinya? Tak ada lagi gairah untuk berprestasi karena badan sudah kehilangan dayanya memproduksi endorfin, sehingga selesai berprestasipun tak ada perasaan “Puas” dan “Bahagia”; dan baru bisa kembali merasa “bahagia” jika mendapat supply narkoba lagi. Tidak heran jika program rehabilitasi pengidap narkoba hanya sekitar 40% yang berhasil, itupun masih juga sesekali kambuh. Simak pengakuan beberapa selebriti di layar TV, betapa sampai 8 tahun mengikuti program rehabilitasi masih saja jatuh dan jatuh lagi. Betapa hebat akibat kejahatan narkoba!

Indonesia mencanangkan “perang total” melawan narkoba, mentargetkan “cuma bisa (maksimal)” merehabilitasi 100.000 per tahun dari jumlah 4.2 juta pecandu narkoba, artinya jika angka keberhasilan total rehabilitasi hanya 40% “cuma” ada 40.000 yang berhasil keluar dari sergapan narkoba. 40.000 dari 4.200.000, itupun belum tiap tahunnya ketambahan entah berapa banyak lagi, jika sumbernya tidak dibungkam secara drastis dan berkesinambungan. Ada yang menghitung, sejatinya keberhasilan total program rehabilitasi itu cuma 5% jika dihitung ketambahan pecandu baru tiap tahunnya.

 

Disarikan oleh dr. Yahya, sumber utama dari Kompas 9 dan 10 Januari 2015