Bagaimana Hipnoterapi bisa memperbaiki hubungan Suami Istri

Hipnoterapi dapat membantu hubungan suami istri, bagaimana prosesnya?

Pada umumnya masalah yang terjadi diantara antara suami dan istri pada intinya adalah karena adanya perbedaan antara harapan dengan kenyataan.  Yaitu harapan dari suami atau istri terhadap tindakan/perilaku pasangannya. Misalnya istri berharap suami selalu setia, tapi ternyata suami tidak bisa setia. Atau suami berharap istri bisa bersikap lembut, namun istri cenderung kasar.

Mengapa ini terjadi? Apa tidak pernah dikomunikasikan keinginan istri pada suami atau sebaliknya. Menurut saya jawabannya “pasti sudah”.  Tapi mengapa tidak terjadi sesuai dengan yang diinginkan? jawabannya karena pada dasarnya sulit untuk merubah watak, bahkan mengubah watak diri sendiripun.

misalnya suami tahu bahwa menyeleweng itu adalah buruk, suami juga sadar bahwa dia tidak mau mengulangi lagi, tapi kembali suami terjebak dalam situasi yang membuatnya tidak dapat menahan diri untuk selingkuh.

Nah pertanyaan selanjutnya, kenapa sulit mengubah watak padahal sudah ada niat atau kesadaran diri untuk mengubah?

Jawabannya karena kebiasaan itu sudah mengakar pada bawah sadar Anda. Diperlukan usaha yang ekstra keras untuk secara sadar mengubah bawah sadar Anda. Mungkin bisa berhasil, mungkin juga tidak.

Disinilah hipnoterapi bisa  membantu menembus ke bawah sadar seseorang dan memperbaiki trauma-trauma yang mungkin telah mengubah kepribadian seseorang. Menguninstall program-program negatif yang sudah terlanjur masuk ke bawah sadar seseorang dan mengisinya dengan program-program pikiran yang positif. Program pikiran positif akan susah masuk jika program negatif belum dibuang.

Dan jangan berpikir bahwa kesalahan pasti terjadi hanya pada satu sisi.  Mengingat bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna, biasanya kesalahan ada di kedua belah pihak. Misalnya istri yang pemarah mungkin bisa membangkitkan watak buruk suami yang memang suka keluyuran malam.   Maksud saya, biasanya di kedua belah pihak seringkali memiliki kekurangan sehingga menimbulkan masalah tersebut terjadi.

Jadi biasanya sangat diajurkan agar dalam terapi dilakukan berdua, baik oleh suami ataupun istri. karena biasanya juga tidak ada yang mau disalahkan 100%.  Misalnya jika suami diterapi namun istri tidak,  maka ada kemungkinan suami akan memberikan resistensi dalam terapi yang membuat terapi tidak efektif, karena suami merasa diperlakukan tidak adil karena dianggap sebagai satu-satunya sumber masalah. Suami mungkin telah  menyadari kesalahannya, namun mungkin suami juga melihat bahwa istripun memberi andil dalam masalah tersebut dan berharap istri juga diterapi agar tidak memiliki perilaku yang cenderung memicu watak buruk suami.

Jadi saran saya, masing-masing pihak cobalah untuk instrospeksi ke dalam diri sendiri. jangan berpikir bahwa selalu orang lain yang salah. Namun jika kita sudah berubah namun pasangan merasa “kesulitan” untuk berubah, atau kita sendiripun merasa sulit untuk berubah,  maka saran saya daripada menimbulkan masalah yang lebih besar, carilah pihak ketiga yang dapat membantu Anda berdua.

Leave a Comment